Jumat, 06 Januari 2017

Call for Paper: Jurnal Studi Kultural Volume II Nomor 2 Juli 2017


Telah dibuka penerimaan laporan penelitian An1mage Jurnal Studi Kultural (AJSK) Volume II Nomor 2 Juli 2017. Deadline terakhir pada tanggal 15 Juni 2017. Silakan kirimkan laporan penelitian Anda dalam format yang Anda ketahui terlebih dulu, click di link berikut dan atau silakan bergabung sebagai penulis AJSK di link berikut.

AJSK menerima karya yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarjinalkan) dalam melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. Mari membangun bangsa dengan pikiran kritis, pikiran kreatif, pikiran dengan analisis yang kuat dan membangun mental kita semua agar menjadi sepadan apapun gendernya (gender equality).

AJSK tidak hanya untuk sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru. Terobosan baru dalam teknik di bidang apapun juga AJSK menerimanya.

Bila kita bukan siapa-siapa, bukan orang yang terkenal dan dikenal dengan kekayaan, pengaruh, pangkat, dan jabatan yang tinggi, maka marilah berkarya dalam laporan penelitian agar kita menjadi seseorang yang memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan. Mau abadi? Mari menerbitkan laporan penelitian.

Mengirim laporan penelitian click di link berikut 
Bergabung sebagai penulis di AJSK click di link berikut.

Minggu, 01 Januari 2017

An1mage Jurnal Studi Kultural Volume II Nomor 1 Januari 2017 ISSN: 2477-3492

https://goo.gl/uf80m5


Jurnal Studi Kultural berisi laporan penelitian yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarjinalkan) untuk melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. 

Jurnal Studi Kultural tidak hanya berisi sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru dan terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun.

An1mage cyber "Jurnal Studi Kultural" ini dapat di-download gratis demi penyebaran, pencerahan, keterbukaan pikiran dan dalam rangka mencerdaskan bangsa agar terbebas dari belenggu hegemoni, dogma, pola pikir agamis yang sempit dan kebodohan karena budaya lisan yang kuat silakan download di PlaystoreGoogle BookAcademiaIssuu. Untuk Amazon grup diwajibkan subscribe terlebih dahulu untuk membaca gratis. Silakan akses di Amazon USAmazon UKAmazon GermanAmazon FrenchAmazon SpainAmazon ItalyAmazon NetherlandAmazon JapanAmazon PortugalAmazon CanadaAmazon MexicoAmazon Australia, dan Amazon India.

Untuk versi cetak menggunakan sistem print on demand (POD) atau pesan buku paperback (softcover) versi cetak berdasarkan pesanan dari pembaca akan dilayani dengan meng-click tombol add to cart di link berikut: https://goo.gl/SmTWwX, harga tidak termasuk biaya pengepakan dan pengiriman. Terima kasih banyak.

Bila kita bukan siapa-siapa, bukan orang yang terkenal dan dikenal dengan kekayaan, pengaruh, pangkat, dan jabatan yang tinggi, maka marilah berkarya dalam laporan penelitian agar kita menjadi seseorang yang memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan. Mau namanya abadi? Mari menerbitkan laporan penelitian.

Ingin laporan penelitianmu juga diterbitkan dalam Jurnal Studi Kultural? Silakan bergabung di Komunitas Jurnal Studi Kultural Indonesia dan atau Serikat Dosen Indonesia.

Mau membaca publikasi sebelumnya? Silakan click link website Jurnal Studi Kultural.

An1mage Jurnal Studi Kultural Volume I Nomor 2 Juni 2016 ISSN: 2477-3492




Jurnal Studi Kultural berisi laporan penelitian yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarjinalkan) untuk melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. 

Jurnal Studi Kultural tidak hanya berisi sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru dan terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun.

An1mage cyber "Jurnal Studi Kultural" ini dapat di-download gratis demi penyebaran, pencerahan, keterbukaan pikiran dan dalam rangka mencerdaskan bangsa agar terbebas dari belenggu hegemoni, dogma, pola pikir agamis yang sempit dan kebodohan karena budaya lisan yang kuat silakan download di PlaystoreGoogle BookAcademiaIssuu. Untuk Amazon grup diwajibkan subscribe terlebih dahulu untuk membaca gratis. Silakan akses di Amazon USAmazon UKAmazon GermanAmazon FrenchAmazon SpainAmazon ItalyAmazon NetherlandAmazon JapanAmazon PortugalAmazon CanadaAmazon MexicoAmazon Australia, dan Amazon India.

Untuk versi cetak menggunakan sistem print on demand (POD) atau pesan buku paperback (softcover) versi cetak berdasarkan pesanan dari pembaca akan dilayani dengan meng-click tombol add to cart di link berikut: https://goo.gl/SmTWwX, harga tidak termasuk biaya pengepakan dan pengiriman. Terima kasih banyak.

Bila kita bukan siapa-siapa, bukan orang yang terkenal dan dikenal dengan kekayaan, pengaruh, pangkat, dan jabatan yang tinggi, maka marilah berkarya dalam laporan penelitian agar kita menjadi seseorang yang memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan. Mau namanya abadi? Mari menerbitkan laporan penelitian.

Ingin laporan penelitianmu juga diterbitkan dalam Jurnal Studi Kultural? Silakan bergabung di Komunitas Jurnal Studi Kultural Indonesia dan atau Serikat Dosen Indonesia.

Mau membaca publikasi sebelumnya? Silakan click link website Jurnal Studi Kultural.

An1mage Jurnal Studi Kultural volume I Nomor 1 Januari 2016 ISSN: 2477-3492



Jurnal Studi Kultural berisi laporan penelitian yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarjinalkan) untuk melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. 

Jurnal Studi Kultural tidak hanya berisi sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru dan terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun.

An1mage cyber "Jurnal Studi Kultural" ini dapat di-download gratis demi penyebaran, pencerahan, keterbukaan pikiran dan dalam rangka mencerdaskan bangsa agar terbebas dari belenggu hegemoni, dogma, pola pikir agamis yang sempit dan kebodohan karena budaya lisan yang kuat silakan download di PlaystoreGoogle BookAcademiaIssuu. Untuk Amazon grup diwajibkan subscribe terlebih dahulu untuk membaca gratis. Silakan akses di Amazon USAmazon UKAmazon GermanAmazon FrenchAmazon SpainAmazon ItalyAmazon NetherlandAmazon JapanAmazon PortugalAmazon CanadaAmazon MexicoAmazon Australia, dan Amazon India.

Untuk versi cetak menggunakan sistem print on demand (POD) atau pesan buku paperback (softcover) versi cetak berdasarkan pesanan dari pembaca akan dilayani dengan meng-click tombol add to cart di link berikut: https://goo.gl/SmTWwX, harga tidak termasuk biaya pengepakan dan pengiriman. Terima kasih banyak.

Bila kita bukan siapa-siapa, bukan orang yang terkenal dan dikenal dengan kekayaan, pengaruh, pangkat, dan jabatan yang tinggi, maka marilah berkarya dalam laporan penelitian agar kita menjadi seseorang yang memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan. Mau namanya abadi? Mari menerbitkan laporan penelitian.

Ingin laporan penelitianmu juga diterbitkan dalam Jurnal Studi Kultural? Silakan bergabung di Komunitas Jurnal Studi Kultural Indonesia dan atau Serikat Dosen Indonesia.

Mau membaca publikasi sebelumnya? Silakan click link website Jurnal Studi Kultural.

Menyoal Risiko dan Kontingensi Pengetahuan dalam Masyarakat Pengetahuan Kontemporer oleh Hendar Putranto

“Guru (dosen) adalah pengabdi masyarakat tanpa tanda jasa”, maka tidak perlu berharap terlalu banyak bahwa ada pihak lain yang akan memerhatikan, apalagi memperjuangkannya secara konkret, dalam bentuk pelbagai kebijakan (politis, ekonomis) yang tujuannya untuk mengangkat harkat, martabat dan kesejahteraan para guru dan dosen. Selain itu, sebenarnyalah dosen merupakan sumber daya manusia yang diadakan untuk menjalankan sistem kerja lembaga pendidikan tinggi, yang meliputi universitas, institut, akademi dan sekolah tinggi.

Dosen merupakan pelaksana kerja yang harus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas kerjanya, moralitas, kedisiplinan serta tingkat kesejahteraannya, yang kelak menciptakan kondisi dan situasi yang nyaman dalam bekerja, sehingga pada gilirannya setiap dosen mempunyai rasa memiliki, menyayangi dan persaudaraan antar sesama dosen, dengan menyadari betapa pentingnya proses produksi pengetahuan yang diharapkan mampu mewujudkan lembaga pendidikan tinggi tingkat dunia (world-class university) berdasarkan kebijakan kualitas (quality policy) sebagai salah satu pendukung pencerdasan kehidupan bangsa.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/30673658/Menyoal_Risiko_dan_Kontingensi_Pengetahuan_dalam_Masyarakat_Pengetahuan_Kontemporer

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 


Membongkar Mitos Jurnal Ber-ISSN Wajib Terakreditasi Dikti yang Hanya Mendapatkan Nilai Kumulatif bagi Dosen di Indonesia oleh Michael Sega Gumelar

International Standard Serial Number (ISSN) yang berawal dari International Organization for Standardization (ISO) sebagai standar internasional untuk penyusunan secara urut, pembuatan katalog,  memudahkan peminjaman antar perpustakaan, dan hal-hal yang membuat mudah lainnya dalam literatur secara serial. Pertama kali diusulkan pada tahun 1971 kemudian diterbitkan sebagai ISO 3297 pada tahun  1975. ISSN digunakan secara luas untuk majalah, terbitan berseri lainnya dan jurnal.

ISSN internasional berpusat di Paris dan memiliki website yang dapat diakses secara mudah di www.issn.org Indonesia seperti negara lainnya juga memiliki pelayanan ISSN ini yang dapat diakses di http://issn.lipi.go.id/

Dalam beberapa puluh tahun terakhir muncul mitos bahwa jurnal yang sudah memiliki ISSN tidak berharga karena tidak memiliki nilai dalam pengajuan jenjang jabatan akademik (JJA) dosen karena yang mendapatkan nilai kumulatif untuk pengurusan JJA tersebut hanya jurnal ber-ISSN yang sudah terakreditasi oleh pendidikan tinggi (Dikti) di Indonesia.

Studi ini bertujuan membongkar, mendekonstruksi dan atau memecahkan mitos tersebut dan memberikan pencerahan agar para dosen tetap dapat terus berkarya dalam membuat laporan penelitian dengan nyaman tanpa dibebani apakah jurnal tersebut terakreditasi oleh Dikti atau tidak, sebab selama jurnal tersebut memiliki ISSN, maka sudah pasti mendapatkan nilai kumulatif tertentu yang disesuaikan dengan bidang ilmu para dosen tersebut.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/30673639/Membongkar_Mitos_Jurnal_Ber-ISSN_Wajib_Terakreditasi_Dikti_yang_Hanya_Mendapatkan_Nilai_Kumulatif_bagi_Dosen_di_Indonesia

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 


Literasi Visual Tokoh Hanoman Bali dengan Pendekatan Augmented Reality oleh I Made Marthana Yusa dan I Nyoman Agus Suarya Putra

Artikel ilmiah ini merupakan bagian dari penelitian tim penulis pada skema Penelitian Dosen Pemula Ristek Dikti dengan judul 'Imagologi Hanoman Melalui Literasi Media Dengan Pendekatan Augmented Reality'. Penelitian ini mencoba mengungkap imagologi Hanoman kemudian menyampaikannya sebagai representasi kesetiaan, pengabdian dan patriotisme melalui literasi media cerita bergambar yang disajikan menggunakan pendekatan augmented reality kepada anak-anak usia 5-11 tahun, sesuai segmentasi Masa Kanak-kanak menurut Profil Kesehatan Indonesia (Depkes RI, 2009). Langkah-langkah metodologis yang dijalani dimulai dari pengumpulan data mengenai Imagologi Hanoman, literasi media dan augmented reality.

Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi literatur, wawancara, dokumentasi dan observasi. Wawancara dilakukan dengan narasumber terkait yang banyak mengkaji karakter Hanoman. Pada progres penelitian, tim peneliti telah melakukan wawancara dengan I Nyoman Arcana, Pelukis Tradisional Bali bergaya Kamasan, Klungkung. Pada proses wawancara berkembang menjadi partisipatory, dengan melibatkan penulis dalam proses penghayatan karakter Hanoman melalui kegiatan melukis, yang dibimbing langsung oleh narasumber (I Nyoman Arcana). Dokumentasi dilakukan pada proses observasi, melihat dan merekam sosok Hanoman dalam Seni Tari dan Seni Rupa. Data yang terkumpul dianalisa dengan pendekatan kualitatif.

Selanjutnya dilakukan perancangan buku pendek tentang literasi visual Hanoman. Selanjutnya sistem augmented reality diimplementasikan pada gambar yang ditampilkan di buku. Pada proses perancangan tersebut juga ditampilkan aset virtual Hanoman untuk ditampilkan ketika layar smartphone diarahkan ke halaman buku. Pendekatan augmented reality memungkinkan menampilkan sosok virtual Hanoman pada layar perangkat smartphone, ketika diarahkan ke bidang gambar cerita bergambar. Wujud virtual Hanoman akan ditampilkan dengan tanda-tanda visual dan berbagai variasi pengembangan visualisasi dari asalnya di India. Media yang diwujudkan dalam penelitian ini bertujuan untuk membantu anak-anak mengenali tanda-tanda visual Hanoman. Anak-anak juga bisa memahami dan meresapi sikap kesetiaan, pengabdian dan patriotisme Hanoman melalui literasi media, membaca dan mengkaji cerita kepahlawanannya.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/30673623/Literasi_Visual_Tokoh_Hanoman_Bali_dengan_Pendekatan_Augmented_Reality

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Story Waveform Model sebagai Alternatif lebih Baik dari Story Mountain Model dalam Mendesain Cerita agar Lebih Mudah oleh Michael Sega Gumelar

Tidak semua orang dapat membuat cerita. Namun, banyak orang dapat bercerita secara lisan. Untuk itu, penelitian ini akan memberikan tambahan dan pengayaan bagaimana cara membuat cerita dengan lebih mudah, studi ini juga menawarkan pendekatan model baru yang disebut Story Waveform Model. Pendekatan ini konsepnya berbeda dengan pendekatan penyusunan Story Mountain Model yang selama ini banyak digunakan.

Story Waveform Model ini dapat menjadi acuan yang lebih mudah dalam menjelaskan suatu struktur cerita dan dalam membuat kerangka cerita atau plot, di mana plot tersebut dapat dijadikan bab atau subbab.


Detailnya lihat di link berikut:

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Industri Budaya dan Kontes Prestige: Terpinggirnya Pemuatan Laporan Penelitian di Jurnal yang Tidak Terindeks Scopus di Indonesia oleh Michael Sega Gumelar

Menyoroti, mengkritisi, mendekonstruksi keterpinggiran Jurnal Non Indeks Scopus dan bobot penelitian seorang peneliti apakah karena dapat masuk ke jurnal yang terindeks oleh Scopus? Ataukah karena bobot yang berkualitas karena penelitian itu sendiri walaupun tidak masuk ke jurnal yang tidak terindeks oleh Scopus?

Industri budaya yang dibisniskan dalam laporan penelitian di bidang pendidikan, Indeks Scopus serta munculnya kontes prestige, keikutsertaan Pemerintah Indonesia dalam mendukung hegemoni tersebut yaitu dengan adanya program meraih gelar doktor sebagai salah satu syaratnya adalah laporan penelitian calon doktor tersebut masuk ke dalam jurnal yang memiliki Indeks Scopus saat studi ini dilaporkan.


Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/30673350/Industri_Budaya_dan_Kontes_Prestige_Terpinggirnya_Pemuatan_Laporan_Penelitian_di_Jurnal_yang_Tidak_Terindeks_Scopus_di_Indonesia

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Mitos dalam Hak Cipta di Indonesia: Antara Idealisme dan Kenyataan oleh Michael Sega Gumelar

Hak cipta dipahami dengan banyak versi dan bahkan menjadi mitos-mitos yang membuat para pembuat karya menjadi ketakutan dan tidak mengerti apa sesungguhnya yang disebut hak cipta di Indonesia, sehingga hak cipta persepsi kenyataannya jauh berbeda dengan persepsi kebanyakan orang awam.

Di sini akan dijelaskan apa hak cipta itu sesungguhnya serta kekeliruan apa yang terjadi di pemahaman masyarakat di Indonesia tentang hak cipta sehingga tercipta mitos-mitos yang kini beredar dan dianggap sebagai kebenaran dan usulan dari penulis untuk membuat simbol baru bagi hak cipta (authorship) dengan hak copy (copyright).

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/30673224/Mitos_dalam_Hak_Cipta_di_Indonesia_Antara_Idealisme_dan_Kenyataan

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Wisata Militer Taebaek dari Drama Descendants of The Sun Korea Selatan

Promosi pariwisata biasanya dilakukan dengan menonjolkan keindahan alam atau tradisi yang sifatnya turun-temurun dari lokasi yang dipasarkan. Namun berbeda dengan Korea Selatan, magnet wisata justru menarik wisatawan mancanegara lewat drama.

Salah satu drama terpopuler tahun 2016 adalah Descendants of The Sun. Drama ini menceritakan kisah percintaan antara tentara Korea Selatan Selatan Yoo Shi Jin (Song Joong Ki) dan dokter Kang Mo Yeon(Song Hye Kyo) yang sama-sama terlibat dalam tugas kemanusiaan dalam perang fiksi di negara Uruk.

Penelitian ini melihat drama sebagai media penyebaran informasi yang tidak netral. Drama Descendants of The Sun sebagai bagian dari budaya pop dipandang sebagai agen konstruksi yang menyelipkan nilai-nilai dan pencitraan dalam kontennya yang memberikan dampak yang signifikan bagi Hallyu atau Korean Wave yang kemudian mendongkrak kunjungan turis ke Korea Selatan.


Detailnya lihat di link berikut:

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

History in Cultural Studies. War excesses in the former Dutch Indies by Rodney Westerlaken

Currently the excesses of the colonial war between The Netherlands and Indonesia in the former Dutch Indies are bein re-evaluated and interpreted in The Netherlands. More and more reports, photos and confessions appear showing a different truth than the one that is generally accepted in The Netherlands. Marx said that people make history, but never in conditions of their own making. This essay evaluates the perspective of cultural studies in a historical context.


The details in this lin in PDf format:
https://www.academia.edu/30673136/History_in_Cultural_Studies._War_excesses_in_the_former_Dutch_Indies

Need your research to be published? Join us in International Cultural Studies community https://www.facebook.com/groups/774322662704394/ or in Komunitas Studi Kultural Indonesia: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Motif dan Kelembagaan Konflik Supporter Sepakbola pada AREMANIA oleh Yusuf Adam Hilman

Seharusnya sepakbola dapat memberikan tontonan yang mengasyikan, memberikan suguhan yang atraktif, menghibur, dan juga bisa memberikan kepuasan bagi para penikmatnya, akan tetapi sepakbola yang ada di Indonesia selama ini lebih cenderung menggambarkan kondisi yang tidak baik, karena berita sepakbola dihiasi dengan persoalan korupsi, dualisme, hingga perkelahian supporter, terkait hal tersebut, seharusnya kita bisa mencermati, kenapa hal tersebut dapat terjadi, khususnya persoalan yang terkait dengan rivalitas sepakbola, ataupun konflik antar supporter, yakni konflik AREMANIA dengan BONEKMANIA.

Fenomena kekerasan suporter yang ada di Indonesia, hal ini jika kita pahami dengan asumsi konflik maka akan memiliki bentuk dan pola, sehingga kita dituntut untuk mengetahui dan memahami kondisi tersebut supaya dapat menyelesaikan persolan itu. Kondisi ini perlu dikaji secara kontekstual di mana fakta–fakta tersebut akan dikaji secara kualitatif, menggunakan pendekatan kepustakaan (library Research), hal ini penting mengingat konflik yang sedang terjadi tidak memungkinkan untuk dilakukan suatu penelitian yang sifatnya observasi, maka kami merasa sangat tertarik untuk mengkaji persoalan tersebut secara kritis.

Dari hasil analisis kami dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa konflik yang sedang terjadi antara Aremania dan juga Bonekmania, bukan persoalan tentang perihal salah dan benar, akan tetapi bagaimana para supporter memaknai konflik tersebut, sebagai reaksi atas berbagai peristiwa terkait proporsi keadilan, mengingat pada hakikatnya supporter itu menginginkan kompetisi yang berkualitas, prestasi yang membanggakan dari klub sepakbolanya, sehingga perlu pendewasaan terhadap perilaku atau tindak tanduk supporter baik di dalam maupun di luar lapangan, akibat rasa kecintaan, loyalitas, terhadap klub kesayangannya.

Detailnya lihat di link berikut:

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Industri Kreatif Ulos pada Masyarakat Pulau Samosir oleh Mangihut Siregar

Ulos identik dengan Orang Batak, di mana ada Orang Batak di situ ada ulos. Segala upacara adat selalu menggunakan perlengkapan ulos. Karena keperluannya yang sangat penting sehingga mereka berusaha menenun untuk keperluan masing-masing. Dulu hampir semua Orang Batak dapat menenun ulos.

Masuknya modernisasi menggeser produksi ulos dengan tenunan tangan (tradisional) menjadi tenunan mesin. Ulos menjadi industri budaya, di mana komoditi ini diproduksi secara massal dan kegunaannya untuk dijual. Hasil tenunan mesin semakin kreatif dan lebih murah sehingga tradisi menenun secara tradisional semakin hilang.

Produksi ulos yang dilakukan secara massal berimplikasi terhadap banyaknya ulos di pasaran dan menyebabkannya bukan lagi barang langka atau sakral. Dari segi pembuatannya memang tidak ada upacara khusus untuk menenun ulos, namun karena kegunaannya untuk keperluan ritual adat sehingga menjadikan benda ini menjadi benda sakral.

Banyaknya ulos di pasaran menjadikan suatu peluang bagi Orang Batak untuk mengkreasikan ulos sebagai industri kreatif. Fungsi komoditi ulos semakin berkembang yang awalnya dimaknai sebagai penghangat badan lalu menjadi industri budaya. Dari industri budaya lalu dikembangkan menjadi industri kreatif. Hal ini mereka lakukan untuk menambah pendapatan dari segi ekonomi.

Detailnya lihat di link berikut:

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan Yuyun dalam Kacamata Kultur Patriarki

Kasus pemerkosaan yang berujung dengan tindakan pembunuhan seringkali menimpa Perempuan Indonesia. Pemerkosaan merupakan tindakan subordinasi perempuan, suatu simbol di mana kedudukan perempuan dengan laki-laki belum setara dalam kultur patriarki.

Yuyun usia empat belas tahun, siswi kelas VII SMPN 5 Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong, menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh empat belas pelaku pada 2 April 2016 saat perjalanan pulang sekolah.

Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menilai bahwa perbuatan asusila yang berujung pada hilangnya nyawa ini merupakan akibat dari pengaruh minuman keras (miras) dan video porno sehingga beliau mendorong penutupan situs pornografi juga larangan peredaran minuman keras secara bebas, serta menyiapkan regulasi khusus mengenai proteksi perempuan dan anak-anak

Penelitian ini akan menyoroti kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun dalam hubungannya dengan budaya patriarki.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805861/Kasus_Pemerkosaan_dan_Pembunuhan_Yuyun_dalam_Kacamata_Kultur_Patriarki

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/


Pengaruh Modernisasi Terhadap Perkembangan Komodifikasi Mukena oleh Noni Mirantika dan Saortua Marbun

Pada abad ke-14 Walisongo memperkenalkan mukena seiring dengan penyiaran Agama Islam di Jawa. Saat itu mukena digunakan untuk menutupi Bagian Tubuh Wanita Jawa yang hanya memakai kemben. Komodifikasi mukena terjadi setelah abad ke-20. Kondisi ini disebabkan oleh karakteristik mukena sebagai barang ekonomi, semakin banyak wanita muslimah yang mengggunakan mukena dan meluasnya ideologi pasar sehingga seseorang merasa lebih nyaman membeli mukena dari pada membuatnya secara swadaya.

Kondisi ini memberikan peluang bagi penjahit atau produsen untuk mengembangkan industri penjualan perlengkapan salat. Hal ini terkait pula dengan ideologi yang berlaku pada industri pembuat mukena, yakni ideologi pasar sehingga mereka melihat mukena sebagai sumber keuntungan. Posisi produsen lebih kuat daripada konsumen mukena karena produsen menguasai aneka modal, yaitu modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik secara bersinergi. Gejala ini tercermin pada semakin berkembangnya produk dan pasar mukena.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805807/Pengaruh_Modernisasi_Terhadap_Perkembangan_Komodifikasi_Mukena

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/


Komodifikasi Penjor sebagai Sarana Persembahyangan Umat Hindu oleh Ketut Hery Sony Pratama dan Saortua Marbun

Menurut Ajaran Agama Hindu di Bali, penjor dimaknai sebagai pemberian persembahan atau sebagai ungkapan terimakasih kepada bumi atau pertiwi yang sudah memberikan tempat hidup dan kesejahteraan manusia, mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan manusia untuk mencapai kemenangan dharma melawan adharma. Penjor dibuat dari bahan-bahan alam yakni sebatang bambu yang ujungnya melengkung lalu dihiasi dengan berbagai jenis reringkitan, variasi dari daun janur atau daun enau yang masih muda. Seiring dengan berjalannya waktu, penjor pun mengalami pergeseran makna bagi Masyarakat Hindu dikarenakan semakin banyak generasi muda yang tidak memahami makna penjor yang sebenarnya.

Di sisi lain, penjor telah diperjualbelikan beserta dengan kelengkapan-kelengkapannya. Komodifikasi penjor membuat masyarakat merasa dimudahkan mengingat bahan-bahan pembuatan penjor seperti janur, bambu, dan bahan lainnya saat ini sudah mulai langka di daerah perkotaan.  Bertambahnya penjual penjor di Kawasan Denpasar membuat masyarakat cenderung memilih membeli perlengkapan penjor atau pun penjor yang sudah jadi.

Detailnya lihat di link berikut:

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Wisata Melukat: Perspektif Air Pada Era Kontemporer oleh I Made Gede Anadhi

Melukat yang sudah menjadi Gaya Hidup Masyarakat Bali Tradisional rupanya kembali dilirik sebagai gaya hidup baru bagi kaum metropolis. Kegiatan berbau spiritual ini rupanya dipandang mampu menjawab kedahagaan Masyarakat Kontemporer Bali akan kebutuhan hakiki hidup mereka. Ramainya kedatangan mereka pada sentra-sentra air suci berupa pancuran untuk melukat atau sekedar berekreasi ditangkap sebagai sebuah peluang usaha baru bagi desa-desa yang memiliki potensi air tersebut. Wisata melukat-pun kemudian menjadi ikon yang dipromosikan lewat berbagai media dan berproses dalam berbagai bentuk sebagai wujud komodifikasi air.

Perspektif Masyarakat Bali era tradisional yang sangat mensakralkan air sebagai bagian dari setiap jenjang kehidupannya. Bahkan disetiap upacara keagamaan keberadaan air selalu menyertai sebagai suatu komponen utama yang harus ada. Zaman bergerak terus, globalisasi tidak terbendung memengaruhi berbagai Sendi Kehidupan Masyarakat Bali termasuk sisi ritual keagamaannya. Perubahan epistemologi sosial ini rupanya telah menggeser Kognitif Masyarakat Bali dari perspektif sakral menjadi profan. Air dengan segala komponen ikutannya kemudian dipandang sebagai objek yang potensial untuk dikelola sebagai komoditi. Ritual yang melibatkan air pun kemudian tidak luput dari komodifikasi.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805627/Wisata_Melukat_Perspektif_Air_Pada_Era_Kontemporer

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/


Tato dalam Seni dan Pariwisata di Bali oleh I Nyoman Anom Fajaraditya Setiawan

Pariwisata di Bali sangat mengandalkan sajian seni dan budaya selain dari pada wisata alam serta wisata spiritual, dalam hal ini seni memiliki tempat dan pasar tersendiri bagi Pariwisata Bali. Pengemasannya, seni dan pariwisata di Bali kebanyakan lebih mengarah pada seni pertunjukan, seni lukis, patung serta seni kerajinannya dan sejenisnya.

Pada sisi lain, dalam globalisasi saat ini, seni tato juga dapat dikatakan sebagai satu daya tarik dalam pariwisata. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya studio-studio tato di sekitar tempat-tempat pariwisata yang strategis. Selain dari pada Budaya asli Indonesia, tato juga masuk sebagai mata pencaharian yang sangat menjanjikan dalam pariwisata. Banyak pemberitaan yang menjelaskan bahwa tato di Bali menjadi incaran wisatawan-wisatawan asing yang berkunjung ke Bali.

Sisi lainnya masih saja ada stigma negatif tentang tato, walau tato itu dapat memberikan penghasilan yang lumayan dalam usaha terkait pariwisata. Dalam beberapa kesempatan, seniman tato yang memiliki wilayah strategis dalam pasar pariwisata menyebutkan penggemar tato dari manca negara bahkan rela datang hanya untuk bertato. Mungkin hal ini perlu untuk di kaji lebih dalam, tentang fenomena yang menyelimuti tato dalam kaitan seni dan pariwisata di Bali

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805587/Tato_dalam_Seni_dan_Pariwisata_di_Bali

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/


Upacara Adat Lepa Bura pada Masyarakat Lamaholot di Desa Sulengwaseng, Kecamatan Solor Selatan, Flores Timur oleh Benediktus Belang Niron

Penelitian ini merupakan suatu kajian terhadap kearifan lokal yang dimiliki oleh Masyarakat Etnik Lamaholot di Desa Sulengwaseng, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur yang berjudul Upacara Adat Lepa Bura (UALB) yang dikaji dalam perspektif budaya. Permasalahan yang dimunculkan pada penelitian ini meliputi tiga aspek, yaitu aspek (1) bentuk, (2) fungsi, dan (3) makna UALB.

Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk mengkaji Kearifan-kearifan Lokal Masyarakat Desa Sulengwaseng sebagai suatu kekuatan budaya lokal untuk mempertahankan ataupun melestarikan Budaya Masyarakat Etnik Lamaholot yang ada di Desa Sulengwaseng secara aktif, selektif, dan adaptif. Dalam konteks ini, UALB mengandung kearifan lokal seperti media integrasi antar warga dengan warga, warga dengan lingkungan alam, warga dengan roh leluhur dan maha pencipta. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) teori Religi, (2) teori Konflik, (3) teori Fungsional Struktural, (4) teori Simbol.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805555/Upacara_Adat_Lepa_Bura_pada_Masyarakat_Lamaholot_di_Desa_Sulengwaseng_Kecamatan_Solor_Selatan_Flores_Timur

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

The Use of Green Turtles on Bali, When Conservation Meets Culture The Use of Green Turtles in Bali, When Conservation Meets Culture by Rodney Westerlaken

The use of green turtles in ceremonies, as delicacy or for the use of the shell has been a vast problem in history and recent years on Bali. The number of turtles living in the waters surrounding Bali is decreasing and the illegal trade is vivid.

Several projects are fighting for conservation of turtles and the Parisada Hindu Dharma Indonesia (the highest Hindu council) issued a decree against the use of turtles in ceremonies, but illegal trade remains. On April 7, 2016 40 green seaturtles (Chelonia mydas) were captured by KAPOLDA (kepolisian daerah, regional police). They were on a ship for 7 days without any water, there flippers tied together prohibiting them to move. On April 14, 2016 31 turtles were released on Kuta beach after given medical care. Four turtles died, three are currently still under medical care and three are kept as evidence.

The green turtle is listed as an endangered species on the IUCN red list [1] and should be protected. Conservation and culture meet eachother at the struggle for the green turtle.    


Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805519/The_Use_of_Green_Turtles_on_Bali_When_Conservation_Meets_Culture_The_Use_of_Green_Turtles_in_Bali_When_Conservation_Meets_Culture

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Komunikasi dalam Konteks Protokol Bisnis Multikultural oleh Mutria Farhaeni

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan mengkaji informasi tentang komunikasi dalam konteks protokol bisnis multikultural.

Multikultural bukanlah sesuatu yang akan hilang pada waktu mendatang, yang memungkinkan merencanakan strategi berdasarkan asumsi saling memahami. Asumsi itu sendiri merupakan suatu fenomena dengan kekayaannya sendiri, eksplorasi yang dapat menghasilkan keuntungan yang tak terhitung bagi kita, baik dari segi visi yang lebih luas maupun kebijakan dan kegiatan yang lebih menguntungkan.
Protokol bisnis melibatkan bentuk perayaan, etiket, dan kode perilaku yang benar, penting untuk mengerti peraturan tersebut dalam transaksi bisnis. Bagaimanapun, seperti aturan perilaku pada umumnya, “peraturan” bisnis berkaitan dengan budaya.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode deskriptif dengan pendekatan kepustakaan. Hasil kajian ini kemudian dideskripsikan, dinarasi serta diinterpretasi dan disusun dalam bentuk makalah.

Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa protokol bisnis ini melibatkan bentuk perayaan, etiket, dan kode perilaku yang benar. Beberapa variasi protokol bisnis perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan komunikasi bisnis multikultural ini.  Variasi tersebut seperti hubungan awal, cara menyapa, penampilan pribadi, pemberian hadiah, dan topik percakapan yang tabu.


Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805472/Komunikasi_dalam_Konteks_Protokol_Bisnis_Multikultural

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/


Teori " Gado-gado " Pierre-Felix Bourdieu oleh Mangihut Siregar

Bourdieu merupakan salah satu tokoh yang masuk ke dalam postmodernism. Pemikirannya dilatarbelakangi pertentangan yang tajam antara dua kubu yang berseteru yaitu strukturalisme dan eksistensialisme. Bertitik tolak dari pemikiran kedua aliran ini, Bourdieu membuat teori campuran atau teori “gado-gado” yaitu struktural konstruktif atau sering juga disebut teori praktik sosial. Konsep penting dalam teori praktik Bourdieu yaitu, habitus, arena/ranah/medan (field), kekerasan simbolik (symbolic violence), modal (capital), dan strategi (strategy).

Teori “gado-gado” Bourdieu mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam ilmu-ilmu sosial umumnya terlebih dalam Ilmu Kajian Budaya. Menurut Bourdieu, subjek atau agen bertindak dalam kehidupannya sehari-hari dipengaruhi oleh struktur atau aturan yang ada dalam masyarakat. Namun agen dalam tindakannya bukan seperti boneka yang bergerak sesuai dengan aturan yang menggerakkan. Sebaliknya, agen dalam tindakannya bukan bertindak sesuka hatinya tanpa diatur oleh rambu-rambu dalam hal ini aturan atau budaya. Agen dalam tindakannya sangat dipengaruhi oleh aturan yang berlaku dalam masyarakat.

Individu sebagai agen dipengaruhi oleh habitus, di sisi yang lain individu adalah agen yang aktif untuk membentuk habitus. Agen dibentuk dan membentuk habitus melalui modal yang dipertaruhkan di dalam ranah. Praktik merupakan suatu produk dari relasi antara habitus dan ranah dengan melibatkan modal di dalamnya.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805434/Teori_Gado-gado_Pierre-Felix_Bourdieu

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Napak Tilas Marjinalisasi Berbagai Etnis di Indonesia dalam Hubungannya dengan Bhinneka Tunggal Ika oleh Michael Sega Gumelar

Marjinalisasi salah satu Etnis Indonesia yang telah terjadi tidak hanya sekali, tetapi sering terjadi, salah satunya muncul dan menguat sampai terjadinya perkosaan massal dikerusuhan Mei 1998. Studi ini menitikberatkan pada upaya eliminasi marjinalisasi etnis dan bagaimana cara memahaminya, dan tidak membahas secara khusus apa penyebab terjadinya beberapa kerusuhan pada beberapa etnis tersebut di masa lalu, namun studi berupa napak tilas melihat pada fakta sejarah secara umum pendekatan studi kultural ini diharapkan dapat memberi dampak agar meminimalkan bahkan mengeliminasi terjadinya marjinalisasi etnis tersebut serta menegaskan untuk mencari solusi sebagai awal untuk memulai diskusi agar tidak terulang lagi di masa depan dengan pemahaman “Bhinneka Tunggal Ika”.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805419/Napak_Tilas_Marjinalisasi_Berbagai_Etnis_di_Indonesia_dalam_Hubungannya_dengan_Bhinneka_Tunggal_Ika

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Upside down Building: Suatu Karya Dekonstruksi Desain Arsitektur oleh I Made Marthana Yusa

Pengoreksian International Style yang diprakarsai oleh Wolfgang Weingart (1960-an) disebabkan oleh prinsip desain modern dengan universalisme dan singularitas kebenarannya telah membatasi paradigma berpikir desainer sehingga karya yang dihasilkan desainer pada periode tersebut terlihat identik dan tipikal.

Dekonstruksi hadir dengan latar-belakang posmodernisme yang berdasarkan pemikiran filsafat bahwa susunan pemikiran yang begitu terpadu, yang tersusun rapi, kini dipilah-pilah sampai ke dasar-dasarnya. Kehadiran dekonstruksi dilihat sebagai bagian dari posmodernisme yang secara epistemologi atau filsafat pengetahuan, harus menerima suatu kenyataan bahwa manusia tidak boleh terpaku pada suatu sistim pemikiran yang begitu ketat dan kaku.

Dekonstruksi Derrida menawarkan perbedaan dan penangguhan kebenaran makna atau disebut différance. Menghasilkan karya desain yang aneh, ganjil, maupun modern yang keluar dari aturan baku hendaknya bukan tujuan utama bagi desainer. Lebih dari itu, desainer wajib untuk bisa melihat dan merasakan perubahan budaya sehingga karya yang dihasilkan bisa adaptif terhadap dialektika sosial yang terjadi. Tulisan ini mencoba membaca teks penerapan dekonstruksi pada karya Desain, pada bahasan khusus menghadirkan upside down building atau "gedung yang terbalik" (literraly) sebagai studi kasus.

Detailnya lihat di link berikut:

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Perempuan Bali dalam Pergulatan Gender (Kajian Budaya, Tradisi, dan Agama Hindu) oleh Ni Nyoman Rahmawati

Gender merupakan interaksi sosial masyarakat yang membedakan perilaku antara laki-laki dan perempuan secara proporsional menyakut moral etika dan budaya  Kekeliruan dalam merefleksikan konsep purusa dan pradana dalam wujud laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial di masyarakat telah menimbulkan adanya ketimpangan dan ketidakadilan terhadap perempuan di Bali, yang memadang laki-laki memiliki kedudukan yang lebih istimewa dari pada perempuan.

Hal ini tercermin dari pemberlakuan hukum adat yang masih belum memiliki kesetaraan gender  walaupun dari hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa Kaum Perempuan Bali tidak merasa mengalami ketidakadilan gender karena memaknai setiap perannya sebagai sebuah kewajiban, walaupun sebenarnya Perempuan Bali merasakan beban kerja akibat ketimpangan peran yang diterimanya.  Hal ini kontradiktif dengan Pandangan Hindu yang memuliakan kaum perempuan sebagai kekuatan  sakti, yang memiliki  peran yang penting dalam penciptaan alam semesta .

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23449118/Perempuan_Bali_dalam_Pergulatan_Gender_Kajian_Budaya_Tradisi_dan_Agama_Hindu_

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Cultural Studies: Sudut Pandang Ruang Budaya Pop oleh B. Parmadie

Budaya dalam Cultural studies lebih didefinisikan secara politis ketimbang secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies (CS) bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhungan estetis (‘seni tinggi’); juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah proses perkembangan estetis, intelektual, dan spiritual; melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari.

Lebih jauh menghadirkan sederetan teori dan metode yang telah digunakan dalam cultural studies untuk melihat dan mengkaji budaya pop kontemporer.Pada tulisan ini lebih memfokuskan pada fenomena-fenomena alat disekitar kita seperti; televisi, fiksi, film, musik pop dan konsumsi masyarakat saat ini.Fokus tulisan ini sudut pandang dan ruang kajian budaya (Cultural Studies) pada budaya pop ini adalah pada aspek relasi budaya dan kekuasaan yang dapat dilihat dalam budaya pop.

Perlu penkajian lebih mendalam tentang; Pertama, institusi-institusi yang memproduksi kesenian dan kebudayaan.Kedua, formasi-formasi pendidikan, gerakan, dan faksi-faksi dalam produksi kebudayaan.Ketiga, bentuk-bentuk produksi, termasuk segala manifestasinya.Keempat, identifikasi dan bentuk-bentuk kebudayaan, termasuk kekhususan produk-produk kebudayaan, tujuan-tujuan estetisnya.Kelima, reproduksinya dalam perjalanan ruang dan waktu. Dan keenam, cara pengorganisasiannya.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23449092/Cultural_Studies_Sudut_Pandang_Ruang_Budaya_Pop

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Komodifikasi Arsitektur Bade di Kota Denpasar oleh I Made Gede Anadhi

Komodifikasi pada era kesejagatan ini rupanya telah merambah sampai ke ranah sarana upacara keagamaan. Ketersediaan sarana upacara siap saji menjadi pilihan bagi masyarakat yang telah mengalami perubahan mata pencaharian dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa, terutama di perkotaan. Masyarakat Kota Denpasar kini lebih memilih untuk membeli sarana ritual mereka di sentra-sentra perajin upakara, lebih-lebih untuk sarana upacara pengabenan yang cenderung harus cepat dilakukan, dan pengerjaannya membutuhkan keterampilan khusus, seperti pembuatan sarana pengusung jenasah berupa Arsitekur Bade.

Para perajin melihat hal ini sebagai peluang usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berupacara, sehingga jadilah Arsitektur Bade sebagai sebuah komoditi. Arsitektur Bade ditawarkan layaknya barang dagangan pada umumnya. Ia diproduksi lalu didistribusikan untuk dikonsumsi oleh masyarakat pengguna dalam upayanya melaksanakan upacara ngaben.

Dampak komodifikasi Arsitektur Bade tidak dapat dilepaskan dari kaidah-kaidah komodifikasi tersebut, seperti budaya massa, tersandar, berbagai modifikasi proses dan patokan harga tertentu. Di sisi lain, komodifikasi Arsitektur Bade dapat dimaknai sebagai bentuk desakralisasi budaya, peningkatan kreatifitas dan inovasi seniman bangunan dan seniman ukir (undagi-sangging), dan juga bermakna kesejahteraan bagi para pengusaha dan karyawan pada sentra-sentra produksi arsitektur bade.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23449034/Komodifikasi_Arsitektur_Bade_di_Kota_Denpasar

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Banjar Laba Nangga, Identifying Stakeholders for Cultural Heritage Management at a Prehistoric Site in North Bali by Rodney Westerlaken

Cultural Heritage Management (CHM) defines how stakeholders should deal with their inheritance, wether coming directly from their bloodline, or give by ancestors 2000 years ago. To be able to understand the implications of cultural heritage management one must identify the different stakeholders.

In this article a description is given of this process of identifying and all the issues that may rise while identifying stakeholders. Values, beliefs and traditions of different stakeholders and subsequently with different interests get mixed with emotions. This subsequently leads to a loss of scientific research and a just interpretation of what has been found, as in the described case study of Banjar Laba Nangga.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23448246/Banjar_Laba_Nangga_Identifying_Stakeholders_for_Cultural_Heritage_Management_at_a_Prehistoric_Site_in_North_Bali

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Kajian Motivasi Tato Rangda pada Orang Bali oleh I Nyoman Anom Fajaraditya Setiawan*, I Nyoman Jayanegara

Seni tato saat ini sangat berkembang dalam perjalanannya, dari wujud atau bentuk dan pemaknaan. Tidak hanya sekedar peniruan dari tato yang sudah ada sebelumnya, tapi juga mengalami modifikasi dalam bentuk. Tidak dapat dipungkiri, tato dalam hal gaya visual banyak terpengaruh dari motif tradisional dan ini terfokus pada Tato Motif Rangda.

Wujud Tato Motif Rangda sebenarnya dihindari oleh Masyarakat Bali, dikarenakan wujud tersebut secara nyata dihubungkan dengan nilai sakral. Namun dibalik fenomena yang ada, beberapa Orang Bali saat ini mengaplikasikan Tato Motif Rangda ke dalam tato mereka. Dari hanya sekedar sebagai hiasan pada tubuh sampai dengan memaknainya lebih dari sekedar motif belaka.

Dengan mendeskripsikan secara kualitatif, Tato Motif Rangda dari pemakainya memang sangat beragam. Hasil pengamatan beragam motif dari pemakai tato dapat disimpulkan bahwa, tato dengan Motif Rangda merupakan sarana komunikasi menjunjung budaya lokal yaitu Budaya Bali. Atas dasar motivasi yang ada, hal ini akan mengungkap lebih dalam tentang Tato Rangda pada Orang Bali dari sudut pandang motivasi dalam berkesenian.


Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23448029/Kajian_Motivasi_Tato_Rangda_pada_Orang_Bali

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Komodifikasi Buah Mangrove untuk Pemberdayaan Masyarakat Pesisir di Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung Bali oleh Mutria Farhaeni

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan mengkaji informasi tentang komodifikasi buah mangrove di Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung Bali. Kemudian dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat di sekitarnya.
Pada dasarnya pemberdayaan  masyarakat di sekitar hutan mangrove akan terus berlangsung karena masyarakat sangat merasakan manfaatnya sehingga muncullah adat istiadat budaya lokal yang sering disebut kearifan tradisional untuk melestarikan mangrove secara turun-temurun.

Permasalahan yang dikaji pertama adalah jenis-jenis buah mangrove apa saja yang dapat dimanfaatkan sebagai produk baik untuk makanan, minuman, sabun, dan kosmetik. Permasalahan kedua adalah pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar pesisir kawasan mangrove khususnya dan secara umum untuk masyarakat luas.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara kepada Kelompok Pengolah dan Pemasaran (Poklahsar) Wana Lestari Tuban dan pengambilan dokumentasi dengan alat kamera. Penelitian ini juga dilakukan dengan metode deskriptif dengan pendekatan kepustakaan. Hasil kajian ini kemudian dideskripsikan, dinarasi serta diinterpretasi dan disusun dalam bentuk makalah.

Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa terdapat lima jenis buah mangrove yang terdapat di areal kawasan Tahura Ngurah Rai Tuban dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai produk olahan buah mangrove yaitu jenis api-api (Avicennia sp), lindur atau bako (Bruguiera gymnorrhiza), Nyirih (Xylocarpus granatum), pidada (Sonneratia caseolaris), nipah (Nypa fruticans) dan pemanfaatan jenis-jenis mangrove ini perlu dikembangkan dan disosialisasikan agar dapat meningkatkan kehidupan dan perekonomian masyarakat disekitarnya.


Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23448001/Komodifikasi_Buah_Mangrove_untuk_Pemberdayaan_Masyarakat_Pesisir_di_Desa_Tuban_Kecamatan_Kuta_Kabupaten_Badung_Bali

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Jilbab(isasi) dengan Kekuasaan sebagai Wacana yang Diperebutkan (Suatu Kajian Multikulturalisme di Kota Bukittinggi Sumatera Barat) oleh Mangihut Siregar

Multikulturalisme merupakan hal yang sangat sulit ditemukan di Indonesia. Perbedaan dipahami sebatas beraneka macam belum sampai saling menghargai apalagi untuk dirayakan. Perbedaan harus dihindari bila perlu harus dihancurkan sehingga tidak jarang dijumpai konflik antara suku, agama, dan golongan.

Perbedaan yang terdapat di tengah masyarakat sering digunakan elit untuk mencapai hasratnya yaitu kekuasaan. Pada kelompok tertentu perbedaan diproduksi dan dipertentangkan untuk mengambil simpati masyarakat yang dominan sedangkan di sisi yang lain para elit mensyukuri perbedaan malah merangkul kaum minoritas. Sikap yang berbeda ini diperankan para elit untuk mendapatkan dukungan suara dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Legislatif (Pileg).

Jilbabisasi merupakan salah satu contoh yang dipraktekkan para elit sebagai wacana yang diperebutkan. Wajib jilbab semakin popular menjelang Pilkada dan Pileg. Istilah wajib jilbab disosialisasikan para guru di bangku sekolah baik secara hegemoni maupun dengan cara dominasi. Menjadi suatu hal yang biasa dan wajar bagi orang yang bukan beragama Islam menggunakan jilbab dalam aktifitas sehari-hari. Mereka yang bukan Islam menerima wajib jilbab menjadi suatu keharusan padahal dari segi aturan tidak mempunyai dasar hukum.

Implikasi wajib jilbab yang berlaku di Kota bukittinggi mengakibatkan identitasnya semakin kabur. Jilbab yang menjadi identitas Islam secara umum mengalami pergeseran karena jilbab bukan lagi identitas Islam. Jilbab sudah masuk ke gereja dan juga vihara. Wacana wajib jilbab mengakibatkan kekacauan identitas.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23447846/Jilbab_isasi_dengan_Kekuasaan_sebagai_Wacana_yang_Diperebutkan_Suatu_Kajian_Multikulturalisme_di_Kota_Bukittinggi_Sumatera_Barat_

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Reduksi Peran Institusi Pendidikan Universitas Udayana Fakultas Sastra dan Budaya Program Studi Sastra Inggris sebagai Perpanjangan Tangan Kaum Kapitalis

Studi tur menjadi polemik di antara pihak universitas, mahasiswa, dan wali mahasiswa. Berbagai anggapan muncul menuding studi tur sudah tidak menonjolkan sisi pembelajaran daripada sisi rekreasi. Mahasiswa bahkan diwajibkan untuk mengikuti studi tur dengan alasan sebagai syarat pembuatan skripsi.

21 Oktober 2015, Universitas Udayana menjadi headline dari surat kabar Tribun Bali terkait masalah mahasiswa program studi Sastra Inggris tingkat akhir yang gagal melaksanakan studi tur ke Singapura dikarenakan dana studi tur yang telah di bayarkan ke travel agent Bali Chresna Cahaya Tour (BCCT) dibawa lari.

Meski banyak pihak yang menempatkan BCCT sebagai pihak yang harus disalahkan karena melarikan uang dan melakukan pembatalan secara sepihak namun penelitian ini akan lebih menyoroti kebijakan Universitas Udayana, khususnya Fakultas Sastra dan Budaya Program Studi Sastra Inggris terkait kebijakannya mengenai studi tur yakni untuk membongkar apakah kebijakan tersebut memang benar-benar sesuai dengan ideologi pendidikan atau justru lebih condong ke ideologi kapitalisme.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23447758/Reduksi_Peran_Institusi_Pendidikan_Universitas_Udayana_Fakultas_Sastra_dan_Budaya_Program_Studi_Sastra_Inggris_sebagai_Perpanjangan_Tangan_Kaum_Kapitalis

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Dekonstruksi Pemikiran Mistis Fritjof Capra dalam Buku “Titik Balik Peradaban” oleh Michael Sega Gumelar

Mendekonstruksi pemikiran mistis ala Friftjof Capra dalam bukunya berjudul “Titik Balik Peradaban – Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan” yang diterjemahkan oleh M.Thoyibi dan diterbitkan Bentang Pustaka cetakan pertama tahun 1997 sampai cetakan keenam 2004.

Dekonstruksi ini diperlukan dalam mengungkap pemikiran mistis Friftjof Capra yang terjebak kembali ke pola pikir lama yaitu “when you don't know anything about anything god knows” yaitu “bila kita tidak mengetahui sesuatu tuhan tahu semuanya”.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23447349/Dekonstruksi_Pemikiran_Mistis_Fritjof_Capra_dalam_Buku_Titik_Balik_Peradaban_

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Imagologi Mbok Jamu Sebagai Representasi Wanita Etnis Jawa Tradisional dalam Diskursus Stereotype Citra oleh I Made Marthana Yusa


Makalah ini mengungkap imagologi yang terjadi pada sosok karakter mbok jamu yang lekat dengan sosio-kultur  Masyarakat Jawa. Penyampaian makalah diawali dengan mengungkap fenomena-fenomena menarik pada pendahuluan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai Imagologi. Pembahasan mengenai 'Wanita Jawa dalam Balutan Citra mbok jamu' menjadi pembahasan yang memiliki porsi khusus. Setelah itu diungkap juga stereotip jamu sebagai indeks tradisional dan kuno, Mbok jamu dalam budaya populer hingga komodifikasi imagologi mbok jamu dalam produk desain.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/23447200/Imagologi_Mbok_Jamu_Sebagai_Representasi_Wanita_Etnis_Jawa_Tradisional_dalam_Diskursus_Stereotype_Citra

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/ 

Currently the excesses of the colonial war between The Netherlands and Indonesia in the former Dutch Indies by Rodney Westerlaken

Currently the excesses of the colonial war between The Netherlands and Indonesia in the former Dutch Indies are bein re-evaluated and interpreted in The Netherlands. More and more reports, photos and confessions appear showing a different truth than the one that is generally accepted in The Netherlands. Marx said that people make history, but never in conditions of their own making. This essay evaluates the perspective of cultural studies in a historical context. By Rodney Westerlaken a great research report, please download and share:

https://www.academia.edu/30673136/History_in_Cultural_Studies._War_excesses_in_the_former_Dutch_Indies

Join us in International Cultural Studies Community https://www.facebook.com/groups/774322662704394/ or in Komunitas Studi Kultural Indonesia https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/

Jurnal Studi Kultural II Nomor 1 Januari 2017 ISSN: 2477-3492

https://goo.gl/uf80m5


Jurnal Studi Kultural berisi laporan penelitian yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarjinalkan) untuk melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. 

Jurnal Studi Kultural tidak hanya berisi sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru dan terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun.

An1mage cyber "Jurnal Studi Kultural" ini dapat di-download gratis demi penyebaran, pencerahan, keterbukaan pikiran dan dalam rangka mencerdaskan bangsa agar terbebas dari belenggu hegemoni, dogma, pola pikir agamis yang sempit dan kebodohan karena budaya lisan yang kuat silakan download di PlaystoreGoogle Book, AcademiaIssuu. Untuk Amazon grup diwajibkan subscribe terlebih dahulu untuk membaca gratis. Silakan akses di Amazon USAmazon UKAmazon GermanAmazon FrenchAmazon SpainAmazon ItalyAmazon NetherlandAmazon JapanAmazon PortugalAmazon CanadaAmazon MexicoAmazon Australia, dan Amazon India.

Untuk versi cetak menggunakan sistem print on demand (POD) atau pesan buku paperback (softcover) versi cetak berdasarkan pesanan dari pembaca akan dilayani dengan meng-click tombol add to cart di link berikut: https://goo.gl/SmTWwX, harga tidak termasuk biaya pengepakan dan pengiriman. Terima kasih banyak.

Bila kita bukan siapa-siapa, bukan orang yang terkenal dan dikenal dengan kekayaan, pengaruh, pangkat, dan jabatan yang tinggi, maka marilah berkarya dalam laporan penelitian agar kita menjadi seseorang yang memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan. Mau namanya abadi? Mari menerbitkan laporan penelitian.

Ingin laporan penelitianmu juga diterbitkan dalam Jurnal Studi Kultural? Silakan bergabung di Komunitas Jurnal Studi Kultural Indonesia dan atau Serikat Dosen Indonesia.

Mau membaca publikasi sebelumnya? Silakan click link website Jurnal Studi Kultural.